Queries about the past.

what if one day someone comes and brings you a present,

and when unsuspecting you unbox it,

it’s an artefact of your past?

what if one day someone asks you to see something

so you can see you past in a different light?

what if one day you get the chance to confront the past,

and find that what you believe

was a mere construction?

what if what you believe in,

what you think you knew,

and what shapes your views,

are never true?

what if in the end someone tells you that everything

was a big fat lie?

would you wish you’ve never accepted the present?

Advertisements

(Mencoba) memaksakan perasaan.

Katanya, jatuh cinta itu tidak bisa dipaksakan. Ah kata siapa?

Aku tahu betul kalau perasaan sangat mungkin dimanipulasi, seperti halnya ‘baik’ dan ‘tulus’ bisa diadakan kalau ada keinginan dibaliknya. Tanya saja pada Dewa 19 yang dengan yakinnya bilang kalau ‘aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku meski kau tak cinta; beri sedikit waktu, biar cinta datang karena telah terbiasa’. Atau, tanya saja pada sahabat yang tiba tiba sadar kalau mereka lebih dari sepasang sahabat. Atau, lebih klise lagi, tanyakan pada karakter sinetron yang pura-pura pacaran lalu jatuh cinta betulan.

Perasaan itu, kawan, bisa dimanipulasi. Entah dengan permainan otak atau dengan membiarkan waktu melakukan pekerjaannya. Masalahnya, bermain dengan waktu itu tak punya batasan yang bisa dikira-kira.

Terkadang, butuh tujuh bulan untuk mengubah kebencian pada suatu kota menjadi cinta yang berbekas hingga tahunan; butuh satu bulan untuk jatuh cinta pada pendidikan yang ditempuh; hanya butuh dua kali pertemuan untuk jatuh cinta pada seseorang; butuh dua bulan untuk berhenti jatuh cinta pada seorang lainnya; dan terkadang, waktu tak berhasil mengubah apapun.

Tanpa bisa mengira-ngira atau bertanya pada siapapun, aku tidak tahu butuh berapa lama untuk jatuh cinta pada bab ini.

Semua terasa seperti bab-bab yang lalu, yang pernah menggebu, namun terlupakan karena terlalu lama tersimpan dan terpendam. Semua ambisi, keceriaan, dan rasa penasaran perlahan memudar. Mencari lokasi cantik pengganti pinggir La Maire belum membuahkan hasil memuaskan. Mencari minuman pembawa senyum belum membawa ke cangkir yang tepat. Mencari jawaban pertanyaan-pertanyaan di otak, tentu saja, belum ada ujungnya.

Mungkin butuh waktu lebih, mungkin butuh usaha manipulasi otak (dan tenaga) yang lebih. Tapi, katanya cinta datang dengan sendirinya dan tiba-tiba? Mana?

Thirty six days of London.

Screen Shot 2015-10-20 at 8.38.30 PM

Dear London,

It’s been one month and six days since we met. It was fast, wasnt it? It seems like it was only yesterday that I’ve arrived, yet now I’m about to have my midterm holiday.

Being with you is not that hard. It didnt take a lot of effort to inhale and breathe your spirit —I can even put on my tube face now (as Metro puts it: sleeping, but with your eyes open).

But London, you’ve taught me to be hostile and I hate that. You and your people are polite, but somehow I couldnt find the politeness welcoming. Last week, I met this french guy I’ve just met once before. We talked only for a bit and there, I felt something I’ve been craving from you —warmth. Having someone saying bisous to end a warm conversation just reminds me how nice acts of random kindness and spontaneous warmth towards strangers are.

Or maybe, I just miss your neighbor, +33, too much. Maybe I’ve been expecting you to treat me like she did few years ago and it’s been hard for me to accept that now that I’m an adult, nobody’s gonna come up to me and go the extra mile to make life a tad more comfortable for me.

You also remind me of what I started to forget —that Adam Smith is wrong; nothing will just get better eventually. You remind me of what have happened before, a few times, actually, and that what I need to do is just to put on more effort, faith, and positivity.

London, I dont know what will happen in the future (even in the near future). I dont know whether what I’m trying to do now will result in good things, I dont know if I can endure everything happening in my life and my head, I dont know if you would turn nicer in coming weeks or month. I really dont know, but I guess I have to fake it ’til I make it, right? Believe that everything will turn out right and let God and the universe conspire to make it true?

It’s been one month and one week. I still have many more weeks to come, many things to do, many people to meet, and of course, many words to write. And yes, I’m not tired of you (yet?). As Samuel Johnson says, when a man is tired of London, he is tired of life; for there is in London all that life can afford. I hope you already have your surprises for me lining up because (I guess) I’m ready to receive those.

Love from your eastern part,

A.

Letters to July: Awal Syawal

July 27, 2015

Hai, Juli. Apa kabar? Maaf menghilang sekian lama. Aku butuh waktu untuk bernafas, marah, dan kembali bernafas. Ternyata menulis saat sedih itu cuma mitos. Menulis saat bingung, kecewa, marah, atau bangkit kembali itu mungkin, tapi saat sedih? Rasanya tidak mungkin. Jangankan untuk berkontemplasi, berpikir saja sulit.

Juli, kamu dan awal Syawal telah menjadi puncak dari semua pertanyaanku beberapa saat ini. Aku tidak bisa bilang aku senang dengan apa yang kamu beri, tapi mungkin, kamu hanya berusaha mengajarkanku kembali untuk percaya pada rencana diam-diam dari tuhan.

Tuhan memang pencerita yang baik, ya. Dia tidak pernah lupa ucapan-ucapan kecil yang kita lontarkan, lalu menyusun kisah baru dari situ dengan latar dan kondisi yang dianggapnya sesuai. Masalahnya, tidak mudah untuk percaya bahwa kisah itu adalah pilihan terbaik. Percaya pada maksud tuhan atau maksud orang lain memang tidak pernah mudah.

Awal Syawal juga menjadi tamparan halus bagi anak yang tak bersyukur ini. Anak yang bilang kalau hidup begini-begini saja dan semua masalah kembali datang dalam siklus yang sama sejak hampir sepuluh tahun yang lalu. Memang, beberapa masalah berputar kembali dengan bentuk yang sama, beberapa malam tetap menjadi penanda keinginan tak tersampaikan yang hanya bisa diatasi dengan air mata sampai terlelap kembali, dan beberapa perasaan serta pemikiran kembali mengingatkan bahwa anak perempuan yang melampiaskan perasaannya pada pain au chocolat dan crepes au nutella di sebuah kota kecil tidak pernah benar-benar pergi.

Mungkin berbagai keadaan mengulang kembali keberadaan mereka, tapi awal Syawal ini menunjukkan betapa baiknya Tuhan yang telah pelan-pelan memberi kesempatan untuk memperbaiki diri dan menunjukkan bahwa ia betul-betul mendengarkan apa yang dikatakan dengan sungguh-sungguh.

Mungkin Joan Rivers benar, it doesn’t get better, you get better. Mungkin Dhanissa benar sejak tahun lalu, bahwa ini hanyalah penanda bahwa Tuhan sayang dan ia sedang berusaha melindungi dari yang tidak pantas. Dan seperti apa yang Suta bilang 6 tahun lalu di Paris, bahwa semua akan indah pada waktunya.

Dan mungkin, pada akhirnya ini kembali pada kebenaran take the first step in faith, you dont have to see the whole staircase, just take the first step.

Awal Syawal mungkin hanya berusaha mengingatkan kalau dalam mempercayai rencana tuhan, kita harus seutuhnya mencemplungkan diri dan berhenti berpegangan pada keraguan dalam hati. Toh, pada akhirnya, tuhan yang tahu cerita ini nantinya mau dibawa kemana.

Sampai nanti, Juli.

Letters to July: Untuk Ramadhan

16 Juli 2015

Juli, kali ini suratku untuk Ramadhan lagi, ya.

Halo, Ramadhan. Kita bertemu lagi dengan penghujung dirimu hari ini. Ternyata satu bulan itu cepat, ya? Besok kamu sudah pergi dan mungkin suasananya sudah tidak seperti ini lagi.

Ramadhan, seperti yang Raditya Dika bilang, kamu adalah penanda waktu yang baik. Mungkin bukan dalam konteks yang dimaksud oleh dia, karena aku belum bisa menghitung berapa banyak Ramadhan yang telah dilalui bersama seseorang. Aku bahkan tidak tahu kapan aku bisa menghitung seperti itu lagi. Tapi kamu, Ramadhan, kali ini berhasil menjadi penanda waktu yang mengingatkan bahwa beberapa hal bisa berubah hanya dalam hitungan hari dan minggu.

Ramadhan, kali ini kamu berbeda. Kali ini kamu mengajariku begitu banyak hal. Aku belajar untuk bersabar, untuk mencoba percaya pada rencana yang disimpan diam-diam oleh Tuhan, untuk mengikhlaskan hal-hal yang belum bisa tercapai, untuk berani meminta maaf atas kesalahan masa lalu, untuk sedikit-sedikit mengurangi keegoisan, untuk belajar mendekatkan diri pada Tuhan yang selama ini hanya kudatangi kalau ada maunya atau sedang kesepian, dan untuk menjadi sedikit lebih dewasa dalam menghadapi hidup.

Terima kasih telah membuat anak manja ini sedikit tergerak untuk berubah. Terima kasih untuk segala penguatan hati dan semoga apa yang telah kamu tinggalkan bisa membuatku memegang serta melaksanakan janji-janji yang sudah terbuat dan tersimpan.

Ramadhan, apakah tahun depan kita bertemu lagi? Apakah tahun depan aku masih bisa bersama dengan orang-orang yang kusimpan di dekatku saat ini? Dan apakah tahun depan kamu mau membawakanku sebuah hadiah dan pelajaran lagi?

Kamu tidak perlu jawab sekarang, Ramadhan. Aku tahu, kita harus menunggu satu putaran matahari lagi untuk mendapat jawabannya.

Untuk sekarang, kita berpisah dulu, ya. Kepergianmu memang harus terjadi, kan? Terima kasih atas segalanya, untuk semua senyum simpul, kecemberutan yang sering datang, dan ketenangan yang telah kamu bawakan.

Sampai jumpa, Ramadhan.

Letters to July: Throwback

July 15, 2015

Dear July,

I know it’s late and I’ve sent my letter for you today. But I’m weary and I just need to spill my thoughts. I still have things to do tonight but the brain is just not wanting to work that hard tonight and the chest is as heavy as it could be.

I know I could just doze away and escape, but there’s something about tonight that makes me want to stay up until the wee hours. Is the promised night happening tonight? I don’t know, I guess I have to wait until the sun rises.

July, do you know that nostalgia is harmful? I remember telling someone that looking back and seeing how far you’ve come is sometimes necessary to feel grateful with what we have right now, but then, sometimes looking back gives you a glimpse of reality, that somehow, your world revolves around the same thing, the same people, only in different phases.

My Timehop today shows what happened in the past three consecutive years. It’s weird, the things I wrote and posted back then somehow are what I’m having in mind today for similar situation but different setting. The past is a funny thing to bump into, don’t you think?

“This is one of the cases where not expecting anything to happen is the only way to stay happy,” I wrote in another post of 2013. If only I can do the time warp and go see that version of me, I’d hug her real tight and I know that she’ll say the usual mantra, “Ca va aller, ca va aller. You’ll be alright.”

I don’t know what’s happening, dear July. Well, I thought I knew. Or, is it true that we never really know what is happening? That, I don’t know.

Good night.

Letters to July: I want the world

July 15, 2015

Dear July,

Lately I’ve been thinking that maybe denial is somehow a good thing. You can forget what you’re going through right now and focus on the future, focus on the hope that the future might bring. That maybe, skipping the present and clinging to the hope for a better tomorrow is a temporary medication to the restless mind.

Someone once told me to stop worrying about the future and seize the present, but what if the present is the source of your unsettling thoughts at night? Should we escape from it?

Escaping the reality is what I do best, my dear July. There are so many things I want to do in life and thinking about those things is somehow relieving, but at the same time, I’m nervous to think that maybe those things will never come true.

I want the world, dear July! Let me tell you some of it. I want to…

Perfect a recipe for a perfect brownie,

Slow dance in the night,

Author a book,

Kiss in the rain,

Get a PhD,

Have a Billy Joel public karaoke session,

Watch Blink 182 / MCR concert for the sake of adolescence memories,

Go for a Parisian day trip, this time sans heartache,

Walk down the memory lane at Thonon, not alone,

Master a game besides Pacman,

Watch all Star Wars and Star Trek series,

Finish reading the Quran,

Visit San Diego Comic Con,

Find a partner to play Mozart’s Sonata in D,

Play Chopin’s Nocturne in C#,

Spend the night on the border of a sea, river, or lake,

Go for a picnic date in the park or pine woods,

Play one flawless song on a Steinway,

Have someone dedicatedly singing my all time favourite song.

Dear July, is it too much to ask?

But then again, I think I still have to be grateful for the items i’ve accomplished and scratched from my bucket list. I should be thankful for the chance to watch my childhood favourite sport Formula One live, to listen to my favourite song She Will Be Loved live, to study in Singapore with no more hard feelings, to return to Mecca and Medina with a purpose, to experience what it is like to fall in love at the first sight, to enter a pageant, and even to finally forgive that ex (and looking well composed and all poised when meeting him #YASS!!).

So, tell me, dear July. Is it too much to ask?

With love,

A.