kalau saya boleh merangkum perjalanan ini dalam sekian halaman… (part 5)

Hari-hari pertama saya disekolah terasa menyenangkan. Bagaimana tidak, saya bagaikan bintang. Semua orang ingin berkenalan dengan saya, si anak pertukaran pelajar dari Asia. Saya satu-satunya perempuan dari 4 murid pertukaran di Lycee de la Versoie, sekolah saya. Saya tidak bisa bahasa Perancis sama sekali, dan orang-orang berlomba-lomba untuk bicara pada saya dalam bahasa Inggris. Saya tidak merasa kesepian, karena selalu ada banyak orang yang mau menemani saya. Masalah bahasa tidak begitu mengganggu, karena saya selalu bisa membalas perkataan orang lain dengan senyuman atau anggukan, dan mereka pun terlihat senang bisa berbahasa Inggris dengan saya.

Hidup saya di bulan pertama tidak mengalami perubahan yang drastis. Saya dikelilingi oleh banyak orang, yang walaupun saya tidak ingat semua nama mereka. Saya masih berhubungan nyaris setiap hari dengan keluarga dan pacar saya lewat internet. Saya makan nasi hampir setiap hari. Saya mencoba banyak hal baru disini, dari mulai makanan hingga jalan baru di tengah kota. Kalau saya bisa menyingkat hidup saya dalam satu kata, yang akan saya pilih adalah euphoria. Saya merasa sangat senang dan bangga bisa berada di Eropa. Saya senang mendengar perkataan teman-teman saya tentang betapa irinya mereka dengan saya, sementara mereka harus berkutat dengan rumus integral di Jakarta. Saya senang karena makanan disini begitu enak. Saya senang karena ada banyak bule cantik dan ganteng disekitar saya. Saya senang karena saya langsung menjadi murid kesayangan di kelas bahasa Inggris saya. Saya senang karena saya berada di jurusan bahasa, dimana pelajaran matematika mereka sangat mudah sehingga saya yang tidak bisa bahasa Perancis saja bisa langsung mengerjakan soal-soal tersebut dengan lancar. Saya senang karena hampir semua orang menganggap saya spesial, karena saya si murid Asia. Ya, euphoria, bukan?

Minggu demi minggu terus berjalan, dan kepopuleran yang saya nikmati mulai memudar. Orang-orang mulai menganggap saya biasa. Saya bukan lagi sebuah pusat perhatian. Saat itu saya sadar, tahapan euphoria sudah selesai. Saya bukanlah seorang turis, melainkan seorang remaja yang harusnya menjalani kehidupan normal disini. Sayangnya untuk mempunyai ‘kehidupan normal’ sama sekali tidak mudah. Saat itulah saya mulai mengeluh.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s