kalau saya boleh merangkum perjalanan ini dalam sekian halaman… (part 8)

Matahari semakin lama bersinar, tidak terasa musim semi sudah datang. Saya yang membenci salju sangat menyambut datangnya saat matahari bersinar kembali dan orang-orang bisa memakai baju apapun yang dimau. Datangnya musim semi mengartikan bahwa saya telah melewati musim panas, gugur dan dingin. Datangnya musim semi mengartikan musim panas 2009 akan segera datang. Datangnya musim semi mengartikan bahwa waktu saya sudah hampir habis. Tapi waktu saya belum benar-benar habis, masih ada tiga bulan lagi untuk menyelesaikan apa yang saya sudah mulai disini, dengan diri saya sendiri, kawan-kawan, test bahasa Perancis saya, dengan pelajaran SMA yang sudah harus kembali diingat, dan dengan keluarga angkat saya.

Ah, bicara tentang keluarga angkat, saya akui hingga saat ini saya belum benar-benar dekat layaknya keluarga. Entah mengapa saya masih merasakan adanya sebuah batasan antara kami, namun hal itu bukanlah suatu yang menjadi masalah besar. Ibu angkat saya terus mempertanyakan mengapa saya jarang bicara di rumah. Saya bingung, saya harus bicara pada siapa atau mengenai apa. Keluarga kami hanya lengkap saat akhir pekan, dan bilapun ada Caroline, kakak angkat saya, dan Genevieve, sang ibu, saya pun jarang bicara. Saya bingung harus membicarakan apa. Kalau saya bicara tentang American Idol atau Gossip Girl yang selalu saya ikuti setiap episodenya, mereka tak akan mengerti. Atau jika saya bicara tentang Formula Satu serta pembalap favorit saya, Lewis Hamilton, mereka pasti bingung. Mereka bicara tentang ski dan hal-hal yang tidak begitu saya pahami. Dengan Renaud, ayah angkat saya, saya relatif lebih mudah bicara jika kami sedang makan berdua. Entah mengapa bicara dengannya terasa lebih mudah dan santai. Jujur hingga saat ini, ada sesuatu yang membuat saya jauh dengan ibu angkat saya, namun saya sendiri tidak mengerti mengapa saya merasa kurang nyaman berada bersamanya. Kadang-kadang saya merasa ia tidak menyukai saya atau kadang-kadang ia menganggap saya bodoh sehingga harus menjelaskan hal-hal kecil berulang-ulang kali, atau apakah memang itu hanya sentimen pribadi saya? Tapi seperti koin yang punya dua sisi, ketidakbegitudekatan ini membuat saya menyadari bahwa keluarga itu begitu penting buat saya. Saya selama ini hanya mengeluh tentang keluarga saya yang banyak masalah, yang nampaknya tidak sesempurna seperti teman-teman saya yang lain, namun nyatanya keluarga terbaik yang pernah diciptakan buat saya adalah keluarga biologis saya sendiri. Seperti pepatah yang terkenal, “you’ll never know what you’ve got ’til it’s gone”, saya baru menyadari bahwa saya butuh Mama, Papa, Pabas, Nenek, Kakek dan seluruh keluarga saya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s