What future holds

So, they were right. Senior year is not that easy and this year you need to be much more mature and be able to choose your next path.

i hate choosing, why cant i have all that i want? but that’s the point of growing up, isnt it? to be able to choose between life’s choices. (and i hate growing up, i’d love to be forever 17, young, careless and lively)

Anyway, i’m not gonna whine again, i’m just gonna talk about choosing my next educational path. College.

People always say to follow my heart my passion, and dont take majors that i dont like or just bcos my parents want me to. But, hello? what about being realistic? Seenaknya mengikuti kata hati dan passion mungkin segombal bicara cinta-cintaan sinetron, cinta buta dan gapeduli hal lainnya, dalam kata lain tolol. emangnya bisa bertahan cuma dengan cinta? emangnya mau makan cinta doang pas gede ntar? Sama seperti passion. Mungkin memang ada orang-orang yang mengikuti passionnya dan sukses, dan tentu saja bisa makan dari penghasilannya tersebut. Tapi mayoritas orang mencoba realistis, dan kembali menjadi kapitalis yang hanya memikirkan bagaimana bisa hidup nyaman tanpa kekurangan.

Kalau mau ikutin apa yang sebenernya saya mau, saya bakal milih Jurnalistik atau sastra atau hukum internasional, atau yang paling aneh mungkin bakal jadi artis (obsesi terkenal). I love to write and tell stories, tapi saya bukan (belum) jadi seperti Sitta Karina ataupun Raditya Dika yang jago merangkai kata kata jadi suatu karya yang menarik dan berkesan.But one thing, i know that writing and telling stories are one of my passions. Yang lainnya adalah saya mau jadi orang yang bisa merubah hidup orang banyak, seperti presiden atau mungkin sekedar volunteer PBB. Yang jelas, saya ngga mau berakhir jadi mbak-mbak kantoran yang masuk pagi pulang sore dan kerja di depan komputer terus menerus. Saya mau punya karir yang seru.

Tapi punya karir yang seru ngga segampang itu, kan? Kembali lagi ke pertanyaan “Nanti mau makan apa kalo gede?” dan pernyataan yang selalu ada diberikan semua orangtua pada anaknya ttg memilih jurusan “Cari yang gampang buat nyari kerjanya..”

Menjadi idealis berarti ngga bisa realistis, itu kesimpulan saya sejauh ini.

Saya kenal beberapa orang yang rela melepaskan impiannya demi punya prospek kerja yang cerah. Teman saya, dia sebenarnya ingin mengambil teknik penerbangan, namun karena prospek kerja di indonesia di bidang tsb ngga cerah, dia lalu mengambil jurusan yang sama dengan ayahnya dulu.

Saya masih bingung dengan pilihan yang harus saya ambil sebentar lagi.

Happy fasting, cheerio!
bises,
adelia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s