Letters to July: Awal Syawal

July 27, 2015

Hai, Juli. Apa kabar? Maaf menghilang sekian lama. Aku butuh waktu untuk bernafas, marah, dan kembali bernafas. Ternyata menulis saat sedih itu cuma mitos. Menulis saat bingung, kecewa, marah, atau bangkit kembali itu mungkin, tapi saat sedih? Rasanya tidak mungkin. Jangankan untuk berkontemplasi, berpikir saja sulit.

Juli, kamu dan awal Syawal telah menjadi puncak dari semua pertanyaanku beberapa saat ini. Aku tidak bisa bilang aku senang dengan apa yang kamu beri, tapi mungkin, kamu hanya berusaha mengajarkanku kembali untuk percaya pada rencana diam-diam dari tuhan.

Tuhan memang pencerita yang baik, ya. Dia tidak pernah lupa ucapan-ucapan kecil yang kita lontarkan, lalu menyusun kisah baru dari situ dengan latar dan kondisi yang dianggapnya sesuai. Masalahnya, tidak mudah untuk percaya bahwa kisah itu adalah pilihan terbaik. Percaya pada maksud tuhan atau maksud orang lain memang tidak pernah mudah.

Awal Syawal juga menjadi tamparan halus bagi anak yang tak bersyukur ini. Anak yang bilang kalau hidup begini-begini saja dan semua masalah kembali datang dalam siklus yang sama sejak hampir sepuluh tahun yang lalu. Memang, beberapa masalah berputar kembali dengan bentuk yang sama, beberapa malam tetap menjadi penanda keinginan tak tersampaikan yang hanya bisa diatasi dengan air mata sampai terlelap kembali, dan beberapa perasaan serta pemikiran kembali mengingatkan bahwa anak perempuan yang melampiaskan perasaannya pada pain au chocolat dan crepes au nutella di sebuah kota kecil tidak pernah benar-benar pergi.

Mungkin berbagai keadaan mengulang kembali keberadaan mereka, tapi awal Syawal ini menunjukkan betapa baiknya Tuhan yang telah pelan-pelan memberi kesempatan untuk memperbaiki diri dan menunjukkan bahwa ia betul-betul mendengarkan apa yang dikatakan dengan sungguh-sungguh.

Mungkin Joan Rivers benar, it doesn’t get better, you get better. Mungkin Dhanissa benar sejak tahun lalu, bahwa ini hanyalah penanda bahwa Tuhan sayang dan ia sedang berusaha melindungi dari yang tidak pantas. Dan seperti apa yang Suta bilang 6 tahun lalu di Paris, bahwa semua akan indah pada waktunya.

Dan mungkin, pada akhirnya ini kembali pada kebenaran take the first step in faith, you dont have to see the whole staircase, just take the first step.

Awal Syawal mungkin hanya berusaha mengingatkan kalau dalam mempercayai rencana tuhan, kita harus seutuhnya mencemplungkan diri dan berhenti berpegangan pada keraguan dalam hati. Toh, pada akhirnya, tuhan yang tahu cerita ini nantinya mau dibawa kemana.

Sampai nanti, Juli.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s